Travelogue

Dalam Kata Terdapat Berbagai Makna, Dalam Makna akan ada Banyak Cerita

Kecintaan Bapak Habiebie kepada Ibu Ainun sesuai dengan suri Tauladan yang dicontohkah Rasulullah SAW September 24, 2010

Filed under: Refleksi — bbbeeeuuuhhh @ 03:43

SURAT CINTA TERAKHIR BAPAK HABIEBIE

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,

calon bidadari surgaku ….

sumber:google

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tak pernah bosan ku membaca surat terakhir bapak Habiebie ini, sungguh sangat mengharukan dan sangat menyentuh. Sudah sangat sering aku membacanya, dan sesering itu pula aku terenyuh oleh kata-kata yang digores oleh sang Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia ini. Kasih sayang Bapak Habiebie terhadap istrinya tak bisa disangkal, bahkan dapat dilihat selama Ibu Ainun masih disampingnya, Besarnya cinta Bapak Habiebie kepada istrinya semasa masih hiduppun sangat dapat dilihat dan dirasakan oleh orang-orang disekitarnya, Yusran Darmawan pernah melihat sendiri bagaimana wujud perhatian atas cinta mantan presiden ini pada Istrinya. Dalam sebuah seminar yang diadakan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di kantor BPPT Jakarta, Habibie menjadi keynote speaker. Saat datang Habibie ditemani oleh istrinya, Ainun. Setelah selesai memberikan kuliahnya, semua wartawan datang mengerubunginya untuk wawancara. Pada saat itu pula Habibie tidak peduli dan ia nampak mencari-cari di mana Ainun. Ketika seorang wartawan bertanya tentang pendapatnya atas situasi di Timor Leste, Habibie hanya menjawab singkat. “Maafkan, saya sedang mencari di mana mantan pacar saya. Mana Ainun? Saya belum pernah pisah dengan Ainun. Mana Ainun?”

Wujud cinta ini juga terlihat saat Ainun sudah terbaring di rumah sakit. Selama hampir tiga bulan ini Habibie dikabarkan tidak beranjak dari sisi istrinya. Sejak masuk rumah sakit pada tanggal 24 Maret 2010 silam  Habibie memberikan perhatian dan menunjukkan cinta kepada ibu dari anak-anaknya itu. Tentu saja ini terjadi karena Habibie dan Ainun telah banyak melewati berbagai perjuangan dalam menempuh hidup ini. Perjuangan tersebut telah memupuk cinta mereka begitu kuat dan terasa takkan terpisahkan. Selama di rumah sakit juga Habibie menuntun istrinya untuk shalat. Dari sebuah sumber saya dapatkan, pada hari sebelum meninggal dunia, Habibie sempat membimbing istrinya shalat subuh, zuhur dan ashar di rumah sakit tersebut.

Hanya sampai di rumah sakit? Ternyata tidak.!Dalam proses penantian pengurusan administrasi sebelum jenazah diterbangkan ke tanah airpun Habibie masih mendampingi istrinya. Dalam pesawat beliau masih dekat dengan jenazah almarhumah. Saat tiba di tanah air jenazah diturunkan dari pesawat, beliau masih mendampingi peti jenazah tersebut. Dalam beberapa foto yang diabadikan wartawan jelas nampak Habibie dengan peci hitam berjalan dengan memegang peti jenazah istrinya. Bahkan saat jenazah dibawa ke pemakaman dari rumah duka, Habibie tidak mau naik ke mobil yang telah disediakan untuknya. Ia malah memilih masuk ke dalam ambulan dan duduk di sisi peti jenazah istrinya. Mungkin tidak semua masyarakat yang menyaksikan iring-iringan mobil itu tahu kalau mantan menteri, manatan presiden, orang besar yang dikenal tidak hanya di Indonesia itu berada berdua dengan sang istri dalam ambulan menuju pemakaman.

Dalam sebuah sambutan yang diberikan Habibie setelah upacara pemakaman istrinya ia mengungkapkan rasa cinta itu dengan sebuah kalimat puitis nan indah: “12 Mei 1962 kami dinikahkan. Bibit cinta abadi dititipkan di hati kamu dan hati saya, pemiliknya Allah. Cinta yang abadi dan sempurna. Kamu dan saya, sepanjang masa. Nikmatnya dipatri dalam segala-galanya, satu batin dan perasaanya.” Ungkapan ini bukan hanya pemanis bibir. Habibie telah menunjukkan dalam laku dan perbuatannya. Ia mencurahkan seluruh cinta dan hatinya pada sang istri, Ainun Haibie, sampai ia menutup mata.

Bapak Habiebie sungguh telah mengikuti suri tauladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya, dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istri-istriku. [HR. ath-Thahawi dalam Kitab al-Musykil (3/211) dari periwayatan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, al-Hakim (4/173), ia berkata “sanadnya shahih”, adz-Dzahabi juga sepakat dalam hal ini.]

Beliau juga Bersabda: “Mukmin yang sempurna imannya ialah seorang mukmin yang paling baik akhlaknya, dan yangpaling baik adalah yang paling murah hatinya terhadap istri-istrinya” [at- Tirmidzi (2/204), Imam Ahmad bin Hanbal (2/250,472), Syaikh al-Albani “Silsilah Al Hadits Ash-Shahihah (284)]

Seorang pemimpin rumah tangga yang baik dan mempunyai akhlak yang mulia adalah suami yang baik dan santun dalam memperlakukan istri, tidak memukul di wajahnya, tidak mencela keluarganya, tidak mengusir keluar dari rumahnya, dan tidak membuatnya susah dalam rumah tangga. Seseorang suami yang baik tidak harus selalu mengharap istrinya untuk melayani kebutuhannya dalam setiap hal, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau membantu menggiling gandum dan menjahit pakaian beliau sendiri.

sumber: Andi Abu Najwa & luar-negeri.kompasiana.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s